Categories
beauty lippiekonsuldokter ludask make-up

Sample Make Up1

Seberapa sering kamu merasakan, menyaksikan, atau mengalami sendiri ketika dirimu dan juga temanmu, atau entah sesama perempuan lainnya, seakan kalian sedang bersaing? Hidup kita, para perempuan, seakan hanya disibukkan dengan persaingan sesama perempuan lainnya? 

Seberapa sering kita mendengar pernyataan bahwa perempuan suka bersaing memperebutkan sesuatu hal? Bahkan sampai ada istilah “pelakor” alias perebut laki orang karena perempuan dinilai suka berebut, suka berkompetisi tidak sehat, saling sirik dan iri. Ini baru tentang pasangan. Belum lagi tentang popularitas, kepemilikan barang-barang bermerk, tentang anak siapa yang paling berprestasi dan hal-hal remeh lainnya. Demi apa? Demi validasi semata. 

Sadarkah kita bahwa pemikiran atau anggapan tersebut adalah stigma negatif yang dilekatkan pada perempuan oleh masyarakat kita yang masih kuat dengan budaya patriarki? Sadarkah kita bahwa budaya ini dalam kasus tertentu mendorong munculnya pandangan seksis yang tak henti mendiskriminasi dan terus berprasangka pada perempuan?

Berdasarkan ilmu evolusi, pada dasarnya perempuan bukanlah makhluk kompetisi. Kita adalah makhluk kolaborasi. Kita menjaga kelompok kita, kita bekerja bersama-sama, ada yang berkebun, ada yang mengumpulkan makanan, ada yang mengolahnya sementara ada yang menjaga anak-anak kita. Kita menggabungkan sayur-sayuran dan mengolahnya menjadi sajian yang lezat yang bisa dimakan bersama demi ketahanan kelompok kita juga. 

Bayangkan bila perempuan adalah makhluk kompetisi. Kita saling curiga dengan perempuan lain dalam kelompok kita, kita tidak mau bekerja sama mengumpulkan sayuran, bahkan kita merebut sayur perempuan lain. Kita tidak mau membiarkan anak-anak kita bermain dengan anak-anak perempuan lain. Apa jadinya kelompok? Tentu akan segera punah. 

Perempuan adalah perekat kehidupan. Keluarga, komunitas, negara bahkan dunia bisa kuat bila perempuan kompak, berjuang dan bekerja sama.